Suami mempunyai kewajiban
mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, tetapi disamping itu ia juga
berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin dalam rumah tangga. Alloh
SWT dalam hal ini berfirman:
Laki-laki adalah pemimpin bagi
kaum wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian
yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).
Menikah bukan hanya masalah
mampu mencari uang,
walaupun ini juga penting, tapi bukan salah satu yang
terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat untuk
mencari rezeki yang halal tetapi ternyata tidak mampu menjadi pemimpin bagi
keluarganya.
Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu. (Qs. at-Tahriim: 6).
Suami juga harus mempergauli
istrinya dengan baik:
Dan pergauilah isteri-isteri
kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Qs. an-Nisaa’: 19).
Barang siapa menggembirakan
hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa
menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka.
Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan
mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan
istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari
sela-sela jarinya. [HR.
Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri].
Dalam satu kisah diceritakan,
pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, “Diantara
istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?” Rasulullah Saw hanya tersenyum lalu
berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.“
Setelah itu, dalam kesempatan
yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing
sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang
lain. Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan
mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Yang paling
aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya.” Kemudian, istri-istri
Nabi Saw itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat
cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.
Bahkan tingkat keshalihan
seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau
sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik.
Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang
buruk.
Hendaklah engkau beri makan
istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau
berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan
dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].
Orang yang paling baik
diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya.
Sesungguhnya aku sendiri adalah yang paling baik diantara kalian dalam
memperlakukan keluargaku. [al-Hadits].
Begitulah, suami janganlah
kesibukannya mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab
sebagai pemimpin keluarga. Suami berkewajiban mengontrol dan mengawasi anak dan
istrinya, agar mereka senantiasa mematuhi perintah Allah, meninggalkan larangan
Allah swt sehingga terhindar dari siksa api neraka. Ia akan dimintai
pertanggung jawaban oleh Allah jika anak dan istrinya meninggalkan ibadah
wajib, melakukan kemaksiatan, membuka aurat, khalwat, narkoba, mencuri, dan
lain-lain.
Setiap kalian adalah pemimpin
dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. [HR. Bukhari].
Bersambung ke Kewajiban Istri
Bersambung ke Kewajiban Istri
Mantap....!!
ReplyDelete